Kamis, 28 Juli 2016

Tamu Mengganggu

Namanya jadi Ibu itu kompleks. Rasanya semua rasa dirasain deh #apasih hehe..
Tapi yang paling sedih kalau liat si bayi nangis susah tidur. Duh kasian kan capek tapi nggak bisa tidur. Kita aja kalau susah tidur atau kurang tidur badan rasanya kurang fit, gimana bayi? 

Nah, kebetulan langit tipikal anak yang kalau mau tidur harus tenang kalau udah tidur, mau ada suara bom dia juga tetep tidur. Tapi kalau mau tidur harus nggak ada suara. Tipikal bayi beda beda ya buibu, ada yg bisa tidur kapan aja dimana aja pokoknya disuasana bagaimanapun tapiii ada juga yg harus nyaman. Nah langit kategori yg ke-2. Repot? Banget. Apalagi kalau ada kerjaan lain yg harus saya kerjakan.

Tapi yg paling annoying itu ada tamu yg sering dateng kerumah itu itu aja orangnya dia lagi dia lagi. Siang bertamu, makan siang numpang tidur siang. Magrib dateng, pulangnya larut malam. Bujangan? Nggak kok dia punya keluarga, tapi saya nggak tau kenapa hidupnya sebebas itu. Bukan urusan saya juga untuk cari tahu. Hehe.. 
Cuma kalo udah ngobrol itu lho suaranya haduh boro boro langit mau merem. Melotot terus kali keganggu. 

Menurut saya tamu macam ini agak mengganggu ya terlebih keseringan bertamunya bahkan kadang bikin si tuan rumah kurang nyaman karena kurang bebas didalam rumah mau ngapa-ngapain kan nggak bebaslah pokoknya. Mana bertamunya betaaaaah banget rasanya saya pengen bilang : 'nggak sekalian nginep atau pindah rumah disini aja?'. Etapi nanti beneran lagi hahaha.. jangan deh yaa..

Dari kecil, keluarga saya mengajarkan tata krama, disiplin dan sopan santun. Dulu sih tiap diingetin mama cuma bales sambil ngomel. Perasaan cerewet betul apa apa banyak aturan. Tapiii setelah makin besar baru saya ngerasain kalau hidup mau enak ya memang harus ada aturan. Ada orang yg bilang kebahagiaan itu kalau kita bebas. Ya bebas yg bagaimana dulu? Bagi saya, kalau hidup nggak ada aturan, ya hidup di hutan aja yakan? Simpel..

Saya senang bgt kok dikunjungi tapi kalau terlalu sering dan dia lagi dia lagi sih namanya mengganggu privasi. Saya yakin kok dia kalau ada diposisi saya jg nggak mau. Mana ada sih org yg mau kerepotan dirumahnya sendiri? Yakan?
Ingat juga jam bertamu itu sebaiknya tidak mengganggu tuan rumah. Jangan bertamu terlalu pagi karena pagi-pagi semua orang sibuk. Bangun tidur, belum mandi, siap siap ke kantor dll. Jangan pula bertamu saat magrib karena biasanya orang mau ibadah, siap siap mandi, makan dan beristirahat pulang kantor. Berilah jeda setelah magrib itu baru waktu yang pas. Yang paling mengganggu dari semuanya adalah bertamu larut malam bahkan dini hari. Nggak ngerti mau bertamu apa ngajak ngeronda sih? Bangunin orang tidur woooyyyy.. 

Saya rasa semua orang nggak suka diganggu kan? Jadi etika tadi penting buat saya dan menurut pendapat saya pribadi bukan bermaksud menyalahkan atau memojokkan pihak lain yang punya penilaian dan cara pandang lain.

Semoga bermanfaat ! 

Selasa, 26 Juli 2016

Breastmilk Jaundice (Kuning karena ASI)

Jaundice (kuning) pada bayi merupakan hal yang wajar karena bayi yang baru lahir memiliki kelebihan bilirubin (unsur kuning) pada darahnya. Bayi baru lahir memiliki kadar sel darah yang tinggi sehingga memicu produksi bilirubin. Bilirubin sendiri terbentuk ketika sel-sel darah merah yang tua dihancurkan. Hal ini biasanya hanya terjadi beberapa minggu saja dgn disinari matahari pagi pukul 7-8 pagi atau bila kadar bilirubinnya terlalu tinggi dan bahkan sampai demam dilakukanlah fototerapi di rumah sakit. 

Saya mau sharing cerita sedikit. Tanggal 23 April 2016 anak saya lahir. Tapi setelah dibawa pulang kerumah terlihat kulitnya kekuningan dan kebetulan beberapa hari pulang dr rumah sakit tidak ada panas sama sekali. Dan tanggal 27 April anak saya di fototerapi dengan rujukan 24 jam dengan 2 lampu bluelight karena kadar bilirubin yang cukup tinggi, 18.6. Sebagai orang tua saya sedih. Ditambah 2 hari berturut turut asi saya belum keluar jadi baru hari ke-3 anak saya mendapatkan asi itupun sama sekali belum memadai sehingga dia kuning. Kabar baiknya, tidak sampai 24 jam kadar bilirubinnya sudah turun sehingga anak saya boleh dibawa pulang. HORREEE !!!!

Tapi sayangnya belum selesai sampai disitu. Saat kontrol dan imunisasi di hari ke-11 anak saya masih kuning padahal setiap hari sudah saya jemur 45-60 menit sehingga kulitnya yang tadinya putih jd agak cokelat eksotis semacam ditanning haha..
Dokter bilang ini masih kuning jadi harus dilakukan serangkaian tes penyebabnya apa krn dikhawatirkan virus atau ada infeksi lain. Ya Tuhan :(((

Waktu itu Dsa merujuk untuk dilakukan tes G6PD, hematologi lengkap, urine lengkap, TSH-s, Bilirubin (again and again) dan FREE T-4 banyak yaa huhu..
Akhirnya anak saya melakukan serangkaian tes itu semua dan hasilnya bagus namun kadar bilirubinnya saat usia 1 bulan masih 10.58 yang seharusnya normalnya 2 atau bahkan dibawah 1 *panik again*
Tapi yang bikin saya nggak khawatir adalah anak saya minumnya kuat, aktif dan tidak tidur terus. Biasanya kalau kuning itu loyo bahkan nggak mau minum. Dokter akhirnya menyarankan untuk cek bilirubin lagi dan hasilnya masih 7. Dan dirujuk lagi untuk 1 atau 2 minggu ke depan cek bilirubinnya kalau terus menurun berarti karena asi tapi kalau tidak menurun harus ada serangkaian tes lagi yang harus dilakukan. OMG.

Bagaimana rasanya ketika seorang ibu menyusui anaknya dan bertatapan mata tapi matanya kuning? Entahlah. Sedih rasanya. Hancur. 
Tapi 2 bulan 7 hari kemudian semuanya hilang waktu kontrol ke dokter lagi dokter blg sudah tidak kuning dan ini karena asi. Aneh sih saya baru tau asi menyebabkan kuning hehe..

Kasus ini dinamakan breastmilk jaundice (kuning karena asi). Jadi 1 dari 200 bayi mengalami hal demikian *langka boookk*.
Jadi mudahnya begini, tugas hati adalah memetabolisme bilirubin untuk dikeluarkan melalui usus kemudian dikeluarkan berupa feses dan urine. Nah dalam asi saya ada kandungan suatu zat tertentu yang menyebabkan kinerja hati untuk memetabolisme bilirubin tsb menjadi lbh lambat dari seharusnya sehingga pembuangannya melalui feses dan urine menjadi tidak sempurna. Kira kira begitu.

Sebetulnya secara medispun kasus ini tidak diketahui penyebab pastinya, krn asi yang seharusnya menjadi sumber kehidupan bayi kenapa jadi terkesan tidak cocok untuk si bayi. Tapi, bukan berarti asupan asi harus dihentikan ya. Asupan asi tetap diberikan sebanyak-banyaknya semau bayi kecuali pd kondisi keadaan tertentu yang menyebabkan bayi dalam kondisi mengkhawatirkan kemungkinan pemberian asi akan di stop sementara.

Jaundice (kuning) dalam hal ini justru tidak membahayakan dan tidak membutuhkan fototerapi khusus seperti biasanya karena akan hilang sendiri 1.5 sampai 3 bulan kemudian.
Melihat mata anak saya sebening embun itu bahagianya luar biasa. Ya Tuhan terima kasih :)

Lelah yang dirindukan

Berbicara masalah parenting rasanya tak akan ada habisnya.
Siapa bilang dunia parenting itu mudah?
Siapa bilang juga dunia parenting itu sulit?
Tergantung dilihat dari sudut pandang mana dan mata siapa yang melihat tentunya.
Selama 3 bulan saya berkecimpung di dunia ini rasanya kompleks. Lelah, emosi, bad mood tapi bahagia.

Menurut saya, memutuskan untuk menikah sama dengan berusaha untuk meminimalisir kebebasan. Disini awal dari semua egoisme ditahan, demi kebahagiaan pasangan. Kalau seseorang berpendapat bahagia adalah bebas, rasanya terlalu egois. Rasanya tak ada orang hidup yang bebas tanpa aturan terlebih hidup dgn manusia lainnya. Semuanya pakai aturan kan?

Terlepas dari semua itu, berkomitmen untuk berumah tangga tandanya telah siap menjadi orang tua dan menjadi panutan kelak untuk keturunannya.
Saya bohong kalau bilang dunia parenting itu mudah, nyatanya saya kewalahan mengurus bayi yang usianya baru 3 bulan. Pekerjaan rumah menumpuk dan urusan bayipun menumpuk dan semuanya tanpa nanny.

Terkadang saya harus mencuri waktu untuk hanya sekedar makan, minum, mandi atau ibadah. Makan 5 menit nyaris tersedak, mandi 5 menit, bahkan ibadah jadi super kilat ketika si bayi menangis. Suara suara berisik mengganggu menjadi hal paling menyebalkan ketika si bayi akan tidur tapi terganggu sedangkan pekerjaan rumah sudah menunggu. Rasanya menangis pun tidak cukup untuk melepaskan segala kekesalan itu.

Tapi, disinilah seninya. Lelah itu berujung bahagia. Semuanya demi sang buah hati. Ketika egoisme harus dipendam dalam-dalam dan emosi ditekan kuat kuat. Semua lelah, semua keringat dan semua keluh kesah itu akan menjadi hal yang paling saya rindukan nantinya, oleh karena itu saya berusaha menikmatinya walaupun sampai saat ini masih terseok-seok menjalaninya. Itu hanya sekelumit kecil dari dunia ini, tapi mendidik buah hati adalah hal tersulit yg mungkin pernah ada.