Berbicara masalah parenting rasanya tak akan ada habisnya.
Siapa bilang dunia parenting itu mudah?
Siapa bilang juga dunia parenting itu sulit?
Tergantung dilihat dari sudut pandang mana dan mata siapa yang melihat tentunya.
Selama 3 bulan saya berkecimpung di dunia ini rasanya kompleks. Lelah, emosi, bad mood tapi bahagia.
Menurut saya, memutuskan untuk menikah sama dengan berusaha untuk meminimalisir kebebasan. Disini awal dari semua egoisme ditahan, demi kebahagiaan pasangan. Kalau seseorang berpendapat bahagia adalah bebas, rasanya terlalu egois. Rasanya tak ada orang hidup yang bebas tanpa aturan terlebih hidup dgn manusia lainnya. Semuanya pakai aturan kan?
Terlepas dari semua itu, berkomitmen untuk berumah tangga tandanya telah siap menjadi orang tua dan menjadi panutan kelak untuk keturunannya.
Saya bohong kalau bilang dunia parenting itu mudah, nyatanya saya kewalahan mengurus bayi yang usianya baru 3 bulan. Pekerjaan rumah menumpuk dan urusan bayipun menumpuk dan semuanya tanpa nanny.
Terkadang saya harus mencuri waktu untuk hanya sekedar makan, minum, mandi atau ibadah. Makan 5 menit nyaris tersedak, mandi 5 menit, bahkan ibadah jadi super kilat ketika si bayi menangis. Suara suara berisik mengganggu menjadi hal paling menyebalkan ketika si bayi akan tidur tapi terganggu sedangkan pekerjaan rumah sudah menunggu. Rasanya menangis pun tidak cukup untuk melepaskan segala kekesalan itu.
Tapi, disinilah seninya. Lelah itu berujung bahagia. Semuanya demi sang buah hati. Ketika egoisme harus dipendam dalam-dalam dan emosi ditekan kuat kuat. Semua lelah, semua keringat dan semua keluh kesah itu akan menjadi hal yang paling saya rindukan nantinya, oleh karena itu saya berusaha menikmatinya walaupun sampai saat ini masih terseok-seok menjalaninya. Itu hanya sekelumit kecil dari dunia ini, tapi mendidik buah hati adalah hal tersulit yg mungkin pernah ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar